Ichsanuddin Noorsy: Sri Mulyani Tengah Ajak Rakyat Menikmati Ketersesatan

Ridhmedia
05/12/19, 14:58 WIB

RIDHMEDIA -  Menteri Keuangan Sri Mulyani adalah penganut globalisasi dalam ekonomi atau economic internasionalism. Perkara itu juga yang menerangkan Mengapa menteri berpredikat terbaik dunia tersebut selalu bergantung ekonomi global.

Begitu terang pakar ekonomi senior Ichsanuddin Noorsy menanggapi Sri Mulyani yang seolah menggantungkan nasib ekonomi bangsa pada ekonomi global.

Sri Mulyani beberapa waktu lalu kembali mendapat penghargaan menteri terbaik dari salah satu media online. Dalam sambutannya, Sri Mulyani mengurai mengenai ketidakpastian global.

Ia juga menyinggung mengenai harapannya pada kesepakatan mengakhiri perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, yang akhirnya gagal karna ada ketegangan di Hong Kong.

“Mereka penganut globalisasi ekonomi, memang bergantung pada situasi penentu ekonomi dunia, China dan AS,” ujarnya kepada Kantor Kabar Politik RMOL, Kamis (5/12).

Noorsy mengingatkan apabila negara-negara dunia juga marah pada Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping atas gejolak ekonomi global yang ditimbulkan. Namun mereka tak sebatas menghujat, melainkan turut mempersiapkan diri lewat penguatan domestik.

“Orientasinya tak out world, tapi in world (kepentingan domestik),” tegasnya. 

Bahkan, sambung Ichsanuddin, China dan AS juga mengutamakan kepentingan domestik masing-masing. Contohnya, ketika Trump mendukung UU HAM dan Demokrasi Hong Kong, China langsung merespon dengan melipatgandakan perlindungan domestik.

Untuk itu, dia mengingatkan Jokowi dan tim ekonomi, khususnya Sri Mulyani, buat tak lagi bergantung pada ekonomi global.

“Kalau bergantung luar, kita sama saja tengah menikmati ketersesatan, kejatuhan,” tegas Ichsanuddin dengan nada meninggi.

Sri Mulyani, sambungnya, perlu punya model baku mengenai model analisa VUCA (Volatile, Uncertain, Complex and Ambiguous). Tanpa model baku tersebut Indonesia bakal terus menikmati ketersesatan.

“Omongan pemerintah pasti selalu bertentangan antara diucap dan fakta di lapangan. Ujungnya, ya menikmati ketersesatan,” tutupnya.(rmol)
Komentar

Tampilkan

Terkini